Saturday, September 5, 2020

Seni Menerima

 Alohaaaa,

Apakah sudah terbiasa dengan cuci tangan setiap hari dan membawa sanitizer serta masker anti peluru (butiran covid) ?

Kalau kadang terlupa pakai masker pas dijalan seperti aku , sudah sampai di sm amin, eh lupa pakai masker yaa beli di pinggir-pinggir jalan deh maskernya hehehe, pernah ga? 

Wajar sih karena kita mulai beradaptasi dengan normal yang baru hehehe. Kalau tahun lalu kita pakai masker karena asap dan debu , nah sekarang ga hanya bangsa kita yang merasakan pakai masker, seluruh dunia pakai masker.

Biasanya di dalam tas hanya dompet dan hp , sekarang nambah satu personel di tas dengan bawa sanitizer  dan perangkatnya tisu hahaha, ya suka lupa juga, kenapa harus bawa, karena ga semua tempat yang kita tuju menyediakan seperangkat alat cuci tangan.

Kalau dulu masuk kesebuah tempat ya langsung aja masuk , nah sekarang harus tes suhu, nah ini macam-macam, ada yang bentuknya kayak tembak, ada yang mengarah ke screen wajah. Aku ingat dulu pas masih kerja di tempat lama, ada juga orang yg datang bilang : aah lebayy kalian pakai cek suhu segala. Karena mungkin pas di bulan 3 itu belum terlalu seperti sekarang kejadiannya. Mungkin saja orang itu sekarang merasa malu yaa karena sudah meremehkan cek suhu yang sebenarnya untuk menjaganya, dan  tidak hanya dirinya tetapi orang yang berada ditempat itu juga. Yang komplen kayak begini biasanya diterima sama bapak2 security. Mungkin saja mulut mereka sudah berbuih yaa tapi terima kasih sudah menerima komplen orang-orang yang secara langsung diselamatkan dari suhu tubuh mereka sendiri.

Menerima sesuatu hal yang enak dan baik itu sangat gembira dan senang yaa, apalagi terima bonus, cinta diterima, makanan kesukaan diterima, jawaban doa diterima, dkk, tetapi untuk menerima sesuatu yang belum terbiasa itu kebanyakan tidak mengenakkan awalnya.

Kalau dipikir-pikir , terhadap segala sesuatu yang mungkin kita ga bisa terima(semua aspek sebutkan sendiri , misalnya tidak terima ditolak, tidak terima dikasih bonus kecil, tidak terima dikata -kataii, tidak terima kenapa dia lebih hebat, tidak terima kenapa dia lebih sukses) itu apa penyebabnya yaa?

Yaaa karena perbandingan.

Pikiran kita membandingan kediri kita. Fokusnya lebih berat ke diri sendiri. Dan tentunya ini ga akan berujung kalau kita ga mulai menerima.

Tidak semua orang dapat menerima kita mau itu kita telah berbuat baik , demikian juga kita terhadap orang lain. Melihat kisah lalu yang menjadikan pelajaran berharga , kalau dulu aku terlalu peduli untuk membuat orang senang , dalam posisi yang selalu ada ,tersedia supaya bisa diterima, awalnya senang tetapi kelamaan kok jadi memberatkan yaa. Nah ini karena aku terlalu fokus kepada diri sendiri supaya bisa terlihat diterima , segala sesuatu yang membuat kita jadi terlalu fokus dan merasa gelisah, takut , kecewa oleh karenanya bisa disebut dengan berhala dan itu lama2 akan menguasai.

"Idolatry means turning a good thing into an ultimate thing we say "unless I have that, I am nothing" - Tim Keller, artinya Dosa dijaman sekarang modern ini bukan melakukan hal hal yang buruk tetapi melakukan hal hal yang baik lebih dari pada Tuhan. Yaa Berhala menjanjikan tetapi tidak bisa memenuhinya.

 Setelah aku mengetahui kebenarannya adalah bahwa hanya Tuhan yang bisa melalkukan penerimaan itu, karena itulah Dia, Dia yang menerima kita yang tidak sekalipun memasuki standar kualifikasi excellent untuk diterima, menjadi sudah diterima karenaNya .

Saat ini kita bisa menerima orang lain, bahkan dalam hal yang seharusnya tidak bisa diterima sesuai dengan yang kita mau , itu semua karena kemampuan atau inisiatif Tuhan . Standar kita tidak bisa di jadikan penerimaan paling terkualifikasi, karena standar manusia beda dengan Tuhan bahkan kita , diri sendiri ,cenderung sering gagal mengartikan penerimaan menurut apa yang kita alami dan hadapi, beda musim hehehe beda pula mengartikannya, see? Betapa kita memang butuh Tuhan untuk setiap hari mendaur ulang hati kita.

Kalau Yesaya berkata seperti ini "Kepada siapa TUHAN meminta nasihat untuk mendapat pengertian, dan siapa yang mengajar TUHAN untuk menjalankan keadilan, atau siapa mengajar Dia pengetahuan dan memberi Dia petunjuk supaya Ia bertindak dengan pengertian?

Manusia sering gagal dalam penerimaan tapi lihat Tuhan siapa yang bisa menasihati Dia , mengajarkan ttg penerimaan? No one 

Karena Dialah masternya.

Jadi kalau ingin tahu banyak hal tentang seni menerima, jangan cari jauh2,God be with you.



Bless u


Karen


No comments:

Post a Comment